Potret Anak Pesisir Bangsa

n

Anak-anak membawa bendera merah putih di desa pesisir pulau Ndao, Rote, Nusa Tenggara Timur  (Foto : ANTARA FOTO/M Agung Rajasa )

Nusantara dalam 17.508 Pulau, tidak sedikit calon penerus bangsa yang lahir dan tumbuh kembang dalam garis pesisir. Deruan ombak menyertai menyertai canda dan tawa wajah-wajah bocah pesisir. Derap kaki-kaki bocah pesisir berlarian di bibir pantai. Kehidupan pantai tak pernah lepas dari matanya. Banyak asa untuk merajut masa depan yang lebih baik, lahir dari otak-otak mereka. Namun, seiring berjalannya waktu harapan harapan itu mulai sirna, layaknya luas lautan yang memisahkan antara mereka dengan pulau-pulau utama Nusantara.

Jenjang pendidikan yang mengenyam bocah pesisir cukup jauh dari bocah kota millennium lainnya. Banyak yang  menganggap bahwa pendidikan adalah suatu yang sepele. Orang tua bocah pesisir yang umumnya berprofesi sebagai nelayan, mengajarkan anaknya tentang bagaimana caranya melaut. Statistika sekolah anak-anak nelayan oleh KKP mencatat, sekitar 60% anak-anak nelayan di Indonesia hanya mengenyam pendidikan di bangku SMP, 30% lainnya hanya sampai di bangku SLTA, dan hanya sekitar 10% yang kuliah. Miris memang, pendidikan yang seharusnya menjadi tonggak utama mencapai keberhasilan bangsa justru dianggap remeh.

Dalam kutipan Majalah Clapeyron Volume 62: Menggali Potensi Pesisir Negeri Bahari “Banyak rintangan yang dihadapi bangsa ini untuk menjadikan laut sebagai sumber penghidupan. Salah satunya pandangan rakyat Indonesia yang masih menjadikan daratan sebagai tumpuan ekonomi”. Rendahnya ketersediaan infrakstruktur yang dapat menjadi faktor hambatan anak-anak pesisir dalam meraih harapan dan asa mereka.

Tidak sedikit anak pesisir dan menjadi tokoh sukses dibalik semua suka dan duka menjadi anak pesisir. Menarik anak-anak pesisir yang menatap tajam kedepan berusaha menggapai angannya, cerita-cerita yang menarik ini kerap diangkat pada layar lebar seperti film “Mimpi Anak Pulau” maupun kisah penulis ternama Andrea Hirata dalam film “Laskar Pelangi”. Selama matahari terbit dari timur dan terbenam dari arah barat, harapan akan selalu ada diantara mereka.

Kita harus bekerja dengan sekeras-kerasnya untuk mengembalikan Indonesia sebagai negara maritim. Samudra, laut, selat, dan teluk adalah masa depan peradaban kita. Kita telah terlalu lama memunggungi laut, memunggungi samudra, memunggungi selat dan teluk.” Joko Widodo, 20 Oktober 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s